Tahun Ini, Wisatawan Sawahlunto Bisa Jalan-jalan Naik Replika Mak Itam

Sawahlunto – Keberadaan kereta api di Kota Sawahlunto tidak bisa dipisahkan dengan batubara yang terkenal terbaik di dunia.

Batubara yang di eksploitasi oleh pemerintah Hindia Belanda kala itu menggunakan kereta api sebagai sarana transportasi utama untuk membawanya ke pelabuhan Emmahaven (sekarang Teluk Bayur), sebelum dibawa oleh kapal-kapal ke berbagai dunia.

Kereta api yang mengangkut batubara merupakan kereta uap buatan Jerman dengan seri E 10 60. Biasa disebut masyarakat dengan Mak Itam. Diberi nama Mak Itam karena warnanya hampir didominasi warna hitam.

Mengoperasikan Mak Itam berbahan bakar batubara, setelah batubara dibakar disampingnya ada bak air yang dipanaskan, dari uap air panas itulah Mak Itam bisa berjalan.

Saat ini Mak Itam yang asli terletak di Stasiun Sawahlunto sejak dipulangkan dari Museum Kereta Api Ambarawa tahun 2008. Namun jarang sekali beroperasi mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali jalan membutuhkan anggaran sekitar Rp15 juta. Anggaran yang besar tersebutlah yang selama ini menjadi alasan mak itam jarang beroperasi.

Untuk itu, demi mengobati kerinduan masyarakat setempat dan juga untuk menarik wisatawan kedaerah tersebut, Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto berinisiatif membuat replika Mak Itam.

Replika Mak Itam dibuat semirip mungkin dengan aslinya, namun dengan ukuran yang relatif berbeda.

Perbedaan yang signifikan dari Mak Itam asli dan replika yakni, ukuran Mak Itam asli panjangnya mencapai 15 meter, lebar satu setengah meter, dan tingginya 3,5 meter. Dari rodanya Mak Itam asli terdapat 10 roda yang keterkaitan satu sama lain.

Sementara itu replika Mak Itam panjangnya sekitar 4 meter, lebar 1,5 meter, dan terdiri dari 4 roda dengan menggunakan mesin truk Toyota Dyna P 100. Sementara biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan replika mak itam untuk wisatawan ini cukup dengan Rp100 ribu, sebab menggunakan bahan bakar solar.

Kepala Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permeseuman Kota Sawahlunto Hendri Thalib melalui Kabid Kebudayaan Wan Ikhlas mengatakan waktu perakitan replika Mak Itam selama 4 bulan dengan biaya perakitannya sebesar Rp65 juta.

“Mak Itam replika ini mampu menarik dua gerbong dengan daya tampung penumpang 50 orang,” kata Wan Ikhlas pada Klikpositif, Senin (20/8).

Salah seorang Tokoh Masyarakat Kota Sawahlunto, Syafrizal Can mengatakan, sangat mengapresiasi dan mendukung adanya replika Mak Itam, sebab menurutnya Mak Itam tak bisa dipisahkan dari sejarah kejayaan Sawahlunto sebagai kota tambang penghasil batubara.

“Kereta Mak Itam merupakan ikon kota Sawahlunto. Adanya replika ini diharapkan bisa menarik jumlah wisatawan yang datang, tentunya berefek ke perekonomian masyarakat Sawahlunto,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Museum Kereta Api Sawahlunto, Syafriadi mengatakan replika Mak Itam rencananya akan dioperasikan setelah semua perijinan selesai.

“Ada banyak perizinan yang harus dilewati, izin dari PT. Kereta Api Indonesia (KAI), Balai Teknik Perkeretaapian, dan Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan,” katanya.

Namun demikian, ia menargetkan replika Mak Itam yang telah disiapkan tersebut dapat mulai beroperasi pada Oktober 2018.

“Rutenya yakni Stasiun Sawahlunto hingga Stasiun Muaro Kalaban dengan jarak sekitar delapan kilometer, dengan melewati terowongan sepanjang 875 meter di jalur tersebut. Untuk stasiun sendiri sebagai sarana pendukung operasional Mak Itam itu juga telah diperbaiki,” jelasnya.

Sumber : klikpositif.com