Ngarai Sianok, Silokek dan Sawahlunto Calon Geoprak Nasional

Sebanyak tiga dari sembilan Geopark Ranah Minang siap mengajukan diri sebagai Geopark Nasional. Ketiga destinasi wisata geologi itu adalah Ngarai Sianok, Silokek, dan Kota Sawahlunto.

“Saat ini di Sumbar ada 9 geopark, namun masih bersifat lokal. Untuk diakui sebagai Geopark Nasional, pemda terkait terlebih dahulu harus mengajukan laporan (dossier), yang untuk tahun ini batas terakhir pengajuannya adalah 30 September mendatang,” ujar Yunus Kusumahbrata, Ketua Tim Percepatan Geopark Indonesia , Senin (24/9).

Dia  mengatakan terdapat beberapa syarat yang mesti dipenuhi untuk mengajukan Geopark Lokal menjadi Geopark Nasional. Pertama, mengumpulkan dokumen yang terkait dengan unsur warisan geologi, biodiversity, dan budaya. Kedua, mendeleniasikan kawasan geopark yang bersangkutan. Terakhir, barulah pengajuan dossier ke kementerian terkait.

“Nantinya akan dilakukan berbagai pengujian layak atau tidaknya kawasan tersebut menjadi Geopark Nasional. Seminggu setelah itu, jika dinilai memenuhi syarat, maka akan dikeluarkan sertifikat yang menyatakan kawasan tersebut sebagai Geopark Nasional,” ujar Yunus.

Geopark sendiri merupakan konsep baru yang diusung UNESCO dan sekarang tengah menjadi tren global. Yunus menuturkan, saat ini ada setidaknya 40 negara yang mengembangkan kawasan wisata geopark.

Menurutnya, inti dari geopark adalah manajemen pengembangan kawasan yang berbasis sumber daya daerah dan partisipasi masyarakat. Di samping itu, pemerintah daerah selaku pemilik otoritas kawasan juga memiliki peran yang sangat vital.

Sementara itu ditempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Oni Yulfian menyatakan dukungannya atas pengajuan tiga Geopark Ranah Minang untuk menjadi Geopark Nasional. Ia mengatakan bahwa  geopark memiliki peran penting dalam meningkatkan pariwisata di Sumbar.

“Saat masyarakat global tidak hanya melihat objek wisata dari segi keindahannya saja, tetapi juga dari aspek-aspek lingkungannya. Oleh karena itulah, jika salah satu geopark di Sumbar terpilih menjadi Geopark Nasional, atau bahkan Geopark Global, maka sudah pasti wisatawan akan datang berbondong-bondong ke ranah Minang,” katanya.

Namun begitu, ia juga mengakui masih banyak kendala yang harus dihadapi demi mengembangkan geopark di Sumbar. Salah satunya adalah respon yang berbeda-beda dari para kepala daerah. Ada yang memang yang memang aktif mengembangkan geopark ada yang tidak. Hal ini, ujar Oni, tak terlepas dari prioritas pembangunan yang tidak sama di masing-masing daerah.

“Kendala lain juga datang dari masyarakat. Masalahnya klasik, yakni perihal lahan. Pun halnya dengan kesadaran masyarakat masih rendah akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Jadi pada akhirnya, kesadaran dan kerjasama dari masing-masing pihak, baik itu pemerintah, masyarakat, maupun pihak-pihak terkait lainnya mutlak diperlukan bagi pengembangan geopark di Sumbar,” tuturnya.

Geopark adalah kawasan wisata yang menggabungkan 3 unsur, yakni geologi, biologi, dan budaya. Konsep geopark sendiri mengacu pada pengembangan kawasan yang memberikan pengaruh terhadap konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Diperkenalkan pertama kali oleh UNESCO pada 2000-an, geopark tidak hanya menjaga kelestarian alam, namun juga meningkatkan taraf hidup masyarakat.

 

Sumber: www.harianhaluan.com