Kawasan Mandeh Mulai Bergeliat di Akhir Tahun 2020, Meski Masih Pandemi Covid-19

Selepas Ashar, Arifin (56) ABK tua tampak begitu senang. Raut wajahnya yang mulai mengeriput kembali sumringah, ketika rombongan wisatawan lokal memanfatkan jasanya untuk berwisata di Kepulauan Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kecamatan Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar.

Bagaimana tidak, sore ini, “pecah telur” baginya mendapatkan tamu yang ingin berwisata di Kepulauan Mandeh, seperti dikutip dari padek.co.

Dengan sopan, ia mempersilakan rombongan wisatawan yang berjumlah 12 orang ini menaiki perahu wisata yang telah lama menganggur dan tertambat di bawah kolong jembatan Muaro Talauak, Nagari Anau Corocok, Tarusan, Pessel.

Ada 8 perahu wisata yang ditambatkan di sana, menunggu antrean wisatawan datang. “Tetapi, sore ini tak mungkin ada lagi wisatawan yang datang. Mereka nakhoda dan ABK-nya telah beranjak pulang, cuma kami yang bertahan, mana tahu ada wisatawan yang datang. Alhamdullilah hari ini pecah telur juga,” ucap Arifin, tersenyum.

Suara mesin perahu wisata menderu, Doni (38) selaku nakhoda perahu wisata, mulai berkonsentrasi mengemudikan perahu dengan mesin tempel di belakang perahu. Sedangkan Arifin berada di kepala perahu, untuk memberikan arahan jalur kepada nakhoda yang mengemudikan di bahagian belakang perahu.

Perahu berlayar perlahan membelah hutan bakau yang memberikan pemandangan memukau bagi wisatawan. Sungguh, pemandangan yang cukup memikat menjelang sore.

Kawanan burung Kuntul Kecil (Egretta garzetta) yang masuk dalam kategori Burung Bangau bertengger di ranting pohon, seakan mengucapkan selamat datang kepada wisatawan yang berkunjung.

Dengan infrastruktur jalan yang telah siap, sekeping surga yang jatuh di Pesisir Selatan, Sumbar, telah memikat pelancong dari berbagi belahan dunia untuk menikmati alamnya.

Arifin menceritakan, semenjak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, usahanya sebagai pemandu wisatawan di Kepulauan Mandeh terdampak telak. Pasalnya, semenjak pandemi covid-19 nyaris pengelola wisata laut di Kepulauan Mandeh menganggur. Tetapi, saat ini wisatawan kembali berkunjung walau tak seramai sebelum pandemi.

“Ada 16 perahu wisata di kelompok kami, dan ada 200 perahu wisata yang beroperasi di Kepulauan Mandeh ini. Saat pandemi ini kami menganggur karena tidak ada wisatawan. Solusinya, kami kembali menangkap ikan di laut demi kelangsungan hidup kami,” ucapnya.

Hal senada juga diucapkan oleh Doni. Menurutnya, sebelum pandemi, jika cuaca cerah, hampir setiap hari kami membawa wisatawan menikmati wisata keliling Kepulauan Mandeh. Tetapi setelah pandemi ini, yang diharapkan adalah Sabtu dan Minggu saja.

“Waktu pemberlakuan PSBB adalah yang terberat bagi kami. Tidak ada wisatawan yang berkunjung. Semua tempat wisata di tutup. Saat ini kami cukup lega. Walau berharap Sabtu dan Minggu saja, alhamdullilah, ada juga wisatawan yang datang,” ucapnya

Ada banyak pilihan bagi wisatawan yang ingin berwisata di Kepulauan Mandeh. Doni menjelaskan, wisatawan yang datang diajak berwisata mengunjungi beberapa pulau yang ada di Kepulauan Mandeh. Dengan tarif sewa perahu wisata berkisar 650.000 rupiah, wisatawan dimanjakan dengan berbagai keunikan dari pulau-pulau yang ada.

“Dalam mendapat orderan, kami bekerja sama dengan pengelola industri wisata yang ada di Sumbar. Kami akan membawa wisatawan berpetualang mengitari Pulau Cubadak, Pulau Setan, Pulau Sironjong Ketek, dan Pulau Kapo-kapo, dan wisata air terjun,” jelasnya.

Setelah Arifin melego jangkar perahu di Pulau Cubadak, ikan-ikan hias berwarna-warni langsung menyerbu para wisatawan bak mengucapkan selamat datang. Terlihat soft coral dan hard coral serta ikan-ikan hias berada di sekeliling perahu. Sungguh menjadi pemandangan yang memukau dari permukaan air laut yang jernih. Sebelumnya, wisatawan juga melakukan swafoto di Pulau Setan.

Arie Susma Indah (39) salah seorang wisatawan yang datang berkelompok dari Kota Pekanbaru menjelaskan bahwa, kunjungannya ke Kepulauan Mandeh adalah kunjungannya yang kedua kali dalam hidupnya. Baginya, pesona yang ditawarkan Mandeh telah memikat hati untuk kembali datang lagi.

“Mandeh adalah sekeping surga yang jatuh di ranah Minang. Selain itu, Mandeh adalah Raja Ampat-nya Sumatera Barat. Saya telah berwisata ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi Mandeh dengan alamnya yang masih asri dan terpelihara membuat saya datang bersama keluarga berwisata untuk kedua kalinya,” ucap alumni Fakultas Hukum Unand yang saat ini berdomisili di Pekanbaru.

Lebih lanjut Arie menjelaskan juga, alasan datang kembali ke Kepulauan Mandeh adalah melakukan snorkeling melihat terumbu karang dan biota laut yang terlihat jelas dari permukaan air.

“Di sini kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri ikan-ikan yang bersembunyi di balik terumbu karang. Kita dapat melakukan Snorkeling di perairan dangkal. Saya sangat senang melihat soft coral dan hard coral serta ikan-ikan hias seperti anemon laut yang kerap disebut ikan Nemo,” jelasnya.

Arie Berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir, dan wisatawan kembali datang ke berbagai obyek wisata yang ada di Sumatera Barat.

“Magnetnya Sumbar itu adalah pariwisata. Kami berharap, pandemi ini dapat diatasi, dan kehidupan kembali normal, wisatawan pun kembali berkunjung ke Kepulauan Mandeh dan obyek-obyek wisata lain yang ada di Sumbar,” tutupnya. (*)