Tour de Singkarak 2018 diikuti 15 kabupaten/kota di Sumbar

Tour de Singkarak adalah kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste International) yang diselenggarakan setiap tahun di Sumatera Barat. Kejuaraan yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 ini merupakan balapan jalan raya jarak jauh yang umumnya diadakan sekitar bulan April hingga Juni dan berlangsung selama seminggu. Kejuaraan ini telah menjalin kerjasama dengan Amaury Sport Organisation yang menjadi penyelenggara Tour de France di Perancis.

Sesuai dengan namanya, Singkarak yang merupakan danau terbesar di Sumatera Barat menjadi bagian dari jalur lintasan Tour de Singkarak. Selain itu, beberapa kawasan wisata lain juga menjadi bagian dari jalur lintasan, termasuk Lembah Harau, Danau Maninjau, Kelok 44, Danau Di atas, dan Danau Dibawah.

Tour de Singkarak diselenggarakan untuk pertama kali oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia pada tahun 2009. Dipandang sukses dari segi peyelenggaraan, menjadikan ajang balap sepeda ini sebagai salah satu kejuaraan balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour. Sehingga selain didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Tour de Singkarak juga diperkuat dengan dukungan APBD provinsi dan kabupaten atau kota yang daerahnya dilalui oleh peserta. Hal ini disebabkan setiap daerah yang menjadi bagian dari tahapan perlombaan balap sepeda Tour de Singkarak mempunyai peran cukup besar dalam mengenalkan daerahnya. Sehingga jumlah kabupaten dan kota yang menjadi jalur lintasan Tour de Singkarak dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Tour de Singkarak 2018 akan digelar sebanyak delapan etape melibatkan 15 dari 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat, kata Kepala Dinas Pariwisata Oni Yulfian.

“Delapan etape ini akan menempuh rute sepanjang 1.100 kilometer dimulai dari Kota Bukittinggi dan berakhir di Kota Pariaman,” katanya di Padang, Rabu.

Rute tersebut menurutnya sudah disurvei oleh tim konsultan dan penyempurnaannya diharapkan bisa selesai tepat waktu sebelum pelaksanaan 3-11 November 2018.

Semula dari 19 kabupaten dan kota di Sumbar diharapkan 18 diantaranya bisa ikut serta sebagai tuan rumah baik untuk start maupun finish.

Hal itu didasarkan pada tujuan Tour de Singkarak yang tidak hanya adu ketangkasan dari pesepeda berbagai negara di dunia, tetapi juga mempromosikan wisata daerah.

Hampir seluruh kabupaten dan kota di Sumbar memiliki potensi wisata yang berpotensi dikembangkan untuk menarik wisatawan datang ke provinsi itu.

Namun empat kabupaten batal ikut serta pada 2018 karena keterbatasan anggaran daerah.

Kabupaten Kepulauan Mentawai sejak awal memang belum bisa diikutsertakan karena keterbatasan infrastruktur.

Sementara itu Padangpariaman pada waktu yang berdekatan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang cukup banyak menelan anggaran.

Pasaman Barat menfokuskan anggaran untuk mengeluarkan daerah dari status tertinggal demikian juga dengan Solok Selatan.

Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit mengatakan Tour de Singkarak adalah kebanggan daerah yang tidak boleh terhenti pada pelaksanaan yang telah 10 tahun.

“Tahun 2019, 18 kabupaten dan kota harus ikut serta,” katanya.

Ia menyebutkan Sumbar sedang berusaha mengembangkan pariwisata daerah sebagai salah satu lokomotif perekonomian daerah.

Tour de Singkarak merupakan salah satu promosi strategis yang tidak hanya menjangkau secara nasional tetapi juga internasional.

Karena itu seluruh daerah dan pemangku kepentingan harus menempatkan gelaran ini sebagai salah satu prioritas.

Sementara itu perwakilan Kementerian Pariwisata Florida Pardosi menyebutkan anggran dari pusat untuk TdS 2018 sekitar sekitar Rp 600 juta.

Anggaran itu menyusut dari tahun-tahun sebelumnya. Florida menyebut itu bertujuan untuk mendorong TdS agar dikelola secara mandiri.

Sumber: sumbar.antaranews.com, sumbar.travel