Sialang

Sialang – Andai saja Sutradara Ryan Murphy mengetahui keelokan alam Sialang, di Situjuah Tungkar, Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota, Sumbar, agaknya dia tidak cukup memilih Ubud, Bali, sebagai salah satu lokasi shoting film “Eat,Pray,Love”, di Indonesia.

Ya, film yang alurnya membuat aktris ternama Julia Robert menemukan cintanya ini, tentu saja menjadi bahagian nan tak bisa terlewatkan dalam promosi wisata alam di Bali. Terutama di terasering, Ubud. Sawah berjenjang itu.

Rancaknya Ubud, tentu tak kalah aduhai dengan keindahan Sialang. Perkampungan nan berbatas dengan Situmbuak, Salimpaung, Tanah Datar tersebut, bak kepingan sorga. Alamnya sejuk, penduduknya ramah.

Saat menginjakan kaki di Sialang, yang berbatas dengan Jorong Dalam Nagari dan Taratak, pengunjung akan dihadapkan dengan perbukitan Ujung Batu, bekas pabrik marmer di kampung Pulau Gawang.

Di kiri dan kanannya, terhampar persawahan nan subur. Dari kawasan ini, pengunjung juga bisa menuju ke pintu Goa Lidah Ajer atau yang lazim disebut penduduk lokal, Ngalau Lidah Aigh (air).

Sebelumnya, hasil penelitian ilmuwan dari Australia, Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan Belanda yang dipimpin E Westaway dari Departemen Ilmu Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Macquarie, Australia meyakini, goa lidah air pernah menjadi tempat kehidupan Homo sapiens atau manusia modern anatomi tertua di Asia Tenggara (ASEAN).

Percaya tak percaya, penelitian ini melibatkan beberapa arkeolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia (Kemendikbud RI).

Goa ini berada di kawasan perbukitan Kojai, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota. Sekitar 20 kilometer dari arah selatan Kota Payakumbuh.

Hasil penelitian yang diberi judul “An early modern human presence in Sumatera 73.000-63.000 year ago” (Kehadiran manusia modern awal di Sumatera 73.000-63.000 tahun lalu) itu, dipublikasikan pertama kali di Nature: Jurnal Ilmiah Mingguan Internasional edisi 17 Agustus 2017.

“Iya, ada beberapa peneliti kita yang ikut membantu penelitian di Goa Lida Ajer. Salah satunya bernama Rokus Due Ewe. Sayang, beliau sudah meninggal, saat penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature edisi Agustus lalu,” kata Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Profesor Harry Truman Simanjuntak.

Menurut Harry, seperti sudah berlangsung sejauh ini, maka fosil gigi manusia modern yang ditemukan di Goa Lida Ajer akan menjadi fosil manusia modern tertua di ASEAN, setidaknya di Indonesia. Sebab, fosil gigi itu diperkirakan sudah berusia 67 ribu hingga 73 ribu tahun lalu.

Profesor Riset yang pernah meraih penghargaan Sarwono Award dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu menyebut, selama ini fosil homo sapiens tertua di ASEAN, diyakini adalah fosil yang ditemukan pada salah satu gua di Filipina. Usia fosil itu diperkirakan 67 ribu tahun.

Selepas dari pintu masuk ke Lidah Air, pemandangan kampung Sialang nan ramah akan ditemukan saat hendak ke Pintu Angin, batas Sialang dengan Situmbuak. Sebelum sampai di Pintu Angin, pengunjung akan di hadapkan dengan tumpukan sawah si atas perbukitan.

Kemudian, di lembah-lembah, di jurang sebelah kiri jalan, hamparan sawah dan aktifitas pertanian masyarakat juga terlihat sibuk menekuni aktifitasnya di Batu Loweh. Menurut Jhoni Agus, pecinta gowes asal Payakumbuh, tiap pekan rutin ke Sialang. Pergi bersepeda dengan istrinya. Jhoni adalah pengusaha yang bergerak di bidang konsultan.

Para pecinta sepeda gunung maupun sepeda santai, memang senang menempuh jalur Sialang. Apalagi, di pagi hari, kabut masih berselimut. Lewat ke atas sedikit, di perbukitan milik kaum Piliang Lapan Dt Simarajo Lelo, juga ditemukan air terjun nan sangat asri.

Pegiat wisata dan budaya Ijot Goblin, Yusra Maiza dan Muhammad Bayu Vesky menilai, di Sialang, layak digelar festival sawah. “Potensinya besar. Alamnya indah, sejuk. Budayanya juga kental. Ini menarik digarap jadi kawasan wisata alam dan budaya,” kata Ijot.

Ijot sendiri, pernah terlibat dalam serangkaian festival budaya dan wisata bersama sederet pegiat Jogja Art Festival, Solo Internasional Festival, Ubud Festival, Lima Gunung Festival, Negeri di Atas Awan dan Jazz Festival serta beberapa pertunjukan festival di Kepulauan Riau seperti Anambas Festival.

Di Sumbar, beberapa festival yang sukses dimotori Ijot dan kawan-kawannya, antara lain Pasa Harau Art and Culture Fesrival di Harau yang sudah masuk kalender wisata dan terpilih menjadi 31 festival pilihan Kementrian, Payokumbuah Botuang Festival di Ampangan Aua Kuniang dan Payakumbuh World Music Festival.

Kepala Dinas Pertanian Limapuluh Kota Eki Hari Purnama mengaku siap, mendorong pengembangan sektor wisata berbasis pertanian di Sialang, Tungkar. “Saya sudah pernah ke sana, bersama Ketua Bamus Tungkar adinda Bayu, Kasi Kecamatan pak Syahrul Isman dan pegiat pertanian pak Cecep. Potensinya besar, perlu dikembangkan,” kata Eki.

Ketua Bamus Nagari Tungkar Muhammad Bayu Vesky menyebut, dalam waktu dekat, Pemerintahan Nagari bersama dengan Karang Taruna akan melakukan pemetaan potensi dan pendekatan kepada pemilik lahan yang akan digarap menjadi kawasan wisata.

“Banyak contoh kawasan wisata agro yang sukses besar di Tanah Air. Ini perlu diadopsi. Baik yang dilakukan Desa Pujon Kidul di Malang, maupun di Ponggok, desa yang sukses dengan program pemberdayaannya di beragam sektor,” kata Muhamamd Bayu Vesky didampingi Wakil Ketua Bamus Refiarno, anggota Bamus Rizki Fitriadi, Jumatul Husni, Netty dan Zulfaherisman.

Walinagari Yusrizal Dt Pado, Ketua Karang Taruna Syahrul Isman dan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Dariusman menyebut, perlu dilakukan langkah nyata dalam pengembangan potensi wisata dan budaya yang ada di nagari. “Kita akan gandeng seluruh pihak,” katanya, didampingi tokoh muda Debby Cristoper dan Syafril Dt Simarapi.

Sumber : prokabar.com, 📷: prokabar