Randai

Randai adalah kesenian (teater) khas masyarakat Minangkabau yang dimainkan oleh beberapa orang (berkelompok atau beregu). Cerita dalam randai, selalu mengangkat cerita rakyat Minangkabau, seperti cerita Cindua Mato, Malin Deman, Anggun Nan Tongga, dan cerita rakyat lainnya. Konon kabarnya, randai pertama kali dimainkan oleh masyarakat Pariangan, Padang Panjang, ketika mereka berhasil menangkap rusa yang keluar dari laut.

Biasanya randai dimainkan pada perayaan pesta, seperti: pernikahan, pengangkatan penghulu atau pada hari besar tertentu. Bahkan, pemerintah Sumatera Barat mengemas kesenian randai sebagai salah satu “icon” daerah untuk menarik para wisatawan datang berkunjung ke Sumatera Barat.

Kesenian randai sudah dipentaskan di beberapa tempat di Indonesia dan bahkan dunia. Bahkan randai dalam versi bahasa Inggris sudah pernah dipentaskan oleh sekelompok mahasiswa di University of Hawaii, Amerika Serikat.

Kesenian randai yang kaya dengan nilai etika dan estetika adat Minangkabau ini, merupakan hasil penggabungan dari beberapa macam seni, seperti: drama (teater), seni musik, tari dan pencak silat.

Dalam sebuah randai, ada beberapa pemain pendukung, di antaranya: pemain galombang, yang melakukan gerak-gerak gelombang yang bersumber dari bunga-bunga silat; pembawa alur cerita, pemain ini akan berbicara secara lantang menyampaikan narasi demi narasi yang menjadi ruh cerita randai; pemain musik/dendang, merekalah yang akan memainkan talempong, gendang, serunai, saluang, puput batang padi, bansi, rabab dan lainnya; pemain pasambahan, bertugas berbicara atau berdialog dalam petatah-petitih Minangkabau. Pemain ini akan memberi bobot dan pesan moral lewat kiasan yang ia sampaikan; dan pemain silat yang tampil ketika ada alur cerita menghendaki perkelahian.