Kunjungan wisatawan ke Sumbar turun, ini penyebabnya

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mencatat kunjungan wisatawan asing ke provinsi itu pada Oktober 2018 mencapai 4.050 orang atau mengalami penurunan 20,49 persen dibandingkan September yang mencapai 5.094 orang.

“Salah satu pemicu turunnya kunjungan wisatawan pada Oktober karena sedikitnya hari libur setempat sehingga pelancong yang datang berkurang,” kata Kepala BPS Sumbar Sukardi di Padang, Senin.

Berdasarkan catatan BPS dari 4.050 wisatawan tersebut didominasi oleh turis asal Malaysia sebanyak 3.385 orang, Australia 234 orang, Perancis 46 orang.

Kemudian, Singapura 36 orang, Amerika Serikat 34 orang, Inggris 31 orang, Tiongkok 26 orang, Jerman 20 orang, India 19 orang, Jepang 13 orang dan negara lainnya 206 orang.

Jika dihitung sejak Januari hingga Oktober 2018 kunjungan terbesar wisatawan asing ke Sumbar di dominasi dari negara-negara ASEAN yakni 82,02 persen.

Kunjungan wisatawan asing ke Sumbar pada Oktober berkontribusi sebesar 0,31 persen terhadap total kunjungan wisatawan ke Indonesia yang mencapai 1.292.118 orang.

Wisatawan yang didata adalah yang masuk dari luar negeri lewat Kota Padang karena jika berangkat dari Jakarta sudah didata di bandara kedatangan pertama, kata dia.

Ia berharap pemerintah daerah lebih mengembangkan potensi wisata yang ada, dengan menata objek wisata mengingat peluang cukup besar bagi pengembangan ekonomi.

Sementara Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumatera Barat menilai tahun ini kunjungan wisatawan ke Sumbar merupakan yang terbaik dibanding tahun sebelumnya.

“Teman-teman hotel senang, karena tingkat hunian nyaris penuh, biasanya kan ada musim ramai dan sepi, tapi tahun ini cukup merata,” kata Ketua Asita Sumbar Ian Hanafiah.

Asita menilai untuk meningkatkan kunjungan wisatawan perlu penambahan rute penerbangan dari Jakarta ke Padang untuk menekan harga tiket yang tergolong mahal akibat tingginya permintaan.

“Info dari maskapai, tahun ini tingkat keterisian pesawat lumayan tinggi, ini menyebabkan tiket mahal, jika pemerintah provinsi ingin meningkatkan kunjungan wisatawan solusinya penambahan jadwal penerbangan,” katanya.

Menurutnya dibandingkan dibandingkan rute Pekanbaru-Jakarta dengan Padang-Jakarta yang jaraknya relatif tiket ke Padang jauh lebih mahal.

“Ini terjadi karena hukum pasar saat permintaan tinggi harga naik, menandakan orang juga ramai ke Padang, maskapai tentu saja akan mengambil untung karena dijual mahal saja laku,” katanya.¬†

Sumber: sumbar.antaranews.com