Di Desa Ini Bersilat dan Main Randai Semarak Sekali

Padang Pariaman – Saat malam, jauh di atas perbukitan terdapat sebuah pemukiman kecil penduduk. Anak-anak mereka bersilat, main randai dan belajar adat.

Dari kejauhan masih terdengar hentakan langkah kaki sekelompok anak remaja memainkan peran seni pertunjukan. Mereka menari meniru gerakan silat dan membentuk lingkaran bulat. Penampilan kesenian tersebut diiringi dua orang pedendang (penyanyi) serta beberapa orang lainnya memainkan alat musik tradisional. Seni Pertunjukan itu bernama “randai”.

Salah satu kesenian tradisional Minang, dengan komplit paduan musik, dendang, tari dan drama klasik. Penampilan itu berlangsung di Korong Padang Kabau Sibaruas, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, Selasa malam (8/5).

Masyarakat sadar, pengaruh buruk dari kemajuan dan perkembangan peradaban mulai mengikis, melunturkan nilai luhur kebudayaan Minang. Generasi ke generasi mulai terbawa arus dengan gaya hidup jauh dari karakter budaya bangsa aslinya. Dengan dasar pemikiran dan ide itulah, Sanggar Seni Minang Usaha Bersama Nagari Pilubang, aktif di seni tradisi. Sanggar ini didirikan pada 2016.

Seorang guru sekaligus pelatih, Yurnalis (52) adalah satu dari penggagas pendirian sanggar. Ia menuangkan segala keahlian dan kemampuan. Hasilnya, anak-anak perkampuangan itu kini mengenal kembali nilai-nilai budaya tradisional.

“Ada 5 macam kesenian yang diajarkan kepada anak-anak saat ini. Yakni gerak “randai” disertai silat, alat musik talempong, saluang, gendang tasa atau tambua, Tari Piring dan orkes dangdut manual” kata Yurnalis.

Tingkat pendidikan anak-anak yang diajarkan mulai dari kelas 3 SD hingga kelas 3 SMP. Mereka adalah sasaran utama pembenahan karakter agar tidak terpengaruh buruk seperti generasi sebelumnya. Dukungan orang tua beserta seluruh tokoh masyarakat cukup antusias. Ini terbukti tingginya swadaya masyarakat mendorong berlangsungnya pembinaan karakter generasi.

“Setelah kesenian, pelatihan Pasambahan atau pidato adat serta pengajian di surau menjadi program berikutnya,” lanjut Yurnalis.

Ali Zuwir (42), Wali Korong Sibaruas sangat bersyukur lahirnya sanggar kesenian tersebut. Betapa tidak, sejak adanya permainan anak nagari ini, anak-anak sudah tidak lagi keluyuran bebas seperti dahulu. Sempat beberapa anak-anak mereka terlibat geng preman yang sering membuat onar di kota Pariaman.

Dampat buruk HP dan internet cukup teralihkan dengan kesibukan belajar seni musik, randai dan silat. Terlebih lagi ada pelajaran tambahan pasambahan dan pengajian di surau nantinya.

Di lain pihak, Ali Ridno (32), anggota Bamus sekaligus tokoh pemuda menyebutkan, sanggar kesenian ini, menjadi harapan baru pada masyarakat. Selain berdampak ekonomis nantinya, proses pendidikan karakter kepada regenerasi dapat berjalan sesuai keinginan bersama. Dukungan konsisten semua pihak sangat diharapkan.

“Sanggar ini, Alhamdulillah mendapat bantuan dari salah seorang anggota DPRD dapil setempat. Melalui dana Pokok pikiran senilai Rp 25 juta, sehingga segala kebutuhan perlengkapan seperti pakaian dan alat musik dapat terpenuhi,” aku Ali Ridno.

Masyarakat juga berharap partisipasi Pemerintahan Nagari Pilubang dan Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman ditingkatkan lebih baik lagi. Proses pembentukan pendidikan berkarakter terutama di sanggar milik masyarakat dapat menjadi wadah selain di sekolah formal.

Sumber : prokabar.com, 📷: prokabar