Tradisi Malongge

Satu lagi, tradisi unik yang dilakukan masyarakat secara turun temurun dan masih bertahan sampai sekarang. Kali ini berasal dari sebuah nagari di Kabupaten Agam, tepatnya di Nagari Koto Malintang. 

Tradisi ini disebut masyarakat setempat dengan nama Malongge atau mencari buah durian di lahan perkebunan masyarakat selama dua jam. Wali Nagari Koto Malintang, Kecamatan Tanjung Raya, Nasirudin mengatakan warga diperbolehkan untuk mencari buah durian di lokasi perkebunan masyarakat setiap harinya.

"Mereka diperbolehkan mencari buah durian pada pukul 4:00 sampai pukul 6:00 WIB dan tidak boleh mengambil buah duren yang ada di pondok pemilik," jelas Nasirudin.

Pada umumnya, warga yang melakukan Malongge ini adalah orang yang tidak memiliki kebun duren dan buah durian yang didapat akan mereka makan dengan keluarganya. Namun ada juga sebagian warga juga menjual buah durian yang didapat sesuai dengan harga di pasaran.

Ia menambahkan,malongge ini merupakan tradisi turun temurun dari warga Koto Malintang Kecamatan Tanjung Raya, semenjak ratusan tahun lalu.

"Tradisi ini untuk kebersamaan antar warga, karena bagi mereka yang tidak memiliki lahan diperbolehkan untuk mencari buah durian ke lokasi perkebunan milik warga," terangnya.

Bagi pemilik yang mengambil buah durian sebelum matang atau diturunkan secara paksa, maka pohon durian tersebut akan dibunuh dengan cara membuka kulit dari pohon durian tersebut, sehingga pohon durian itu akan mati. Hukuman ini dilakukan oleh ninik mamak atau kepala adat dan masyarakat sekitar setelah buah durian tersebut diambil.

"Ini merupakan sanksi yang diberikan oleh warga kepada pemilik lahan perkebunan durian yang mengambil buah durian sebelum matang. Sanksi ini pernah diberikan beberapa tahun lalu dan sampai saat ini pemilik tidak pernah pulang ke kampung halaman," jelasnya.

Sebagai informasi, lahan perkebunan durian di Nagari Koto Malintang sekitar 340 hektare. Setiap hektare dengan jumlah pohon durian sebanyak 100 batang.

Salah seorang warga Lubuk Basung, Muhammad Khudri mengapresiasi masyarakat Koto Malintang dalam melestarikan kebudayaan secara turun temurun.

"Saya berharap nagari yang lain juga bisa melestarikan kebudayaan yang ada di daerah itu," katanya.