Sungai Lembang Solok

Empat tahun terakhir, Kota Solok setapak demi setapak terus melangkah maju lewat menggebrak berbagai bidang potensial. Dan berhasil memacu kenaikan pertumbuhan ekenomi berkisar 4-6 persen per tahun, UKM tumbuh, pengangguran usia produktif dapat ditekan. Dengan begitu, Kota Solok mulai bersiap menjadi kota mandiri dan modern, bahkan kawasan sentra ekonomi Sumbar bagian tengah. 

Pada bidang infratruktur, dalam kurun waktu tiga tahun pembangunan fisik pun nyaris terealisasi sesuai target, sebagaimana sebelumnya tertuang dalam RPJM Kota Solok. Seperti halnya pembangunan jalan lingkar utara yang menghubungkan daerah Laing Pasir dengan Bandar Pandung Kota Solok yang proses pembangunannya telah memasuki tahap 70 persen, separoh diantaranya mulai dimanfaatkan untuk kepentingan mobilisasi umum.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Pusat melalui APBN-nya, ditahun 2014 turut kucurkan dana segar sebesar Rp 29 milliar guna percepatan penyelesaian proyek Jalan Lingkar Utara tersebut.

Wakil Wali Kota Solok, Zul Elfian menuturkan, jalan Lingkar Utara Solok memiliki panjang 8,12 kilometer, lebar 46 meter, membelah empat kelurahan, diantaranya Tanah Garam, Kampung Jawa, Nanbalimo, dan Laing.  Sesuai master plan, jalan by pass dua jalur tersebut memiliki dua gerbang utama, yakni di Bandar Pandung, kawasan jalan lintas Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, dan Laing Pasir jalan lintas Saok Laweh, Kecamatan Kubung Kabupaten Solok.

Dari pekerjaan yang dilaksanakan, 2 kilometer dari arah Bandar Pandung-Simpang TPA Ampang Kualo sudah diaspal hotmik, 2,6 kilometer dalam tahap pengerasan, dan sisanya 3,9 kilometer dari perempatan dekat Rumah Dinas Wali Kota Solok-Laing Pasir, masih dalam tahap perintisan awal/profile. Setelah sebelumnya Pemko Solok bersama Ninik Mamak, Tokoh Masyarakat, para pemilik tanah realisasikan pembebasan lahan. 

Tahun sekarang, Kota Solok berhasil menggaet dana APBN Rp29 milliar dari Kementerian PU, dengan sasaran penggunaannya untuk pengaspalan badan jalan yang terbengkalai sepanjang 2,6 kilometer, tepatnya dari Simpang TPA Ampang Kualo menuju Perempatan dekat kawasan Rumah Dinas Wali Kota Solok, Kelurahan Laing. Dimana, pekerjaan fisik itu dipercayakan pada salah-satu Perusahaan Jasa Kontruksi Lokal asal Kota Solok.  

“Meski didanai oleh APBN, namun pekerjaan tetap dalam pengawasan Dinas PU Kota Solok, sebab Kota Solok memerlukan fisik proyek mantap. Dengan terbukanya akses jalan Lingkar Utara, diharapkan pula segera mampu mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitarnya, umumnya Kota Solok,” tegas Zul Elfian.

Selain Jalan Lingkar, realisasi pembangunan sepanjang empat tahun kepemimpinan Irzal Ilyas-Zul Elfian juga ditandai dengan berdirinya Masjid Agung Al Muhsinin, Hall Serbaguna di Kelurahan Tanjung Paku, Pasar Semi Modern di Komplek Pasar Raya Solok, Gedung DPRD Kota Solok yang representatif di Jalan Syamsu Tulus, Kelurahan Nan Balimo, Penambahan Sumber Air Minum Guguk Rantau oleh PDAM berkapasitas 90 liter per detik, Klinik Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak, serta pembangunan berbagai infrastruktur jalan antar kecamatan dan kelurahan, irigasi, jembatan, serta gedung milik pemerintah, rumah ibadah, prasarana publik lainnya.  

Terbaru, di tahun 2014, juga dimulai Proyek Pengendalian Banjir Batang Lembang di Kelurahan Enam Suku, Kecamatan Lubuk Sikarah mengandalkan APBD Provinsi Sumbar oleh PSDA Sumbar senilai Rp5,5 milliar, yang sebelumnya direncanakan bakal menjadi proyek masa depan Kota Solok.

Kebetulan, sejalan dengan dibangunnya trap beton penahan tebing, Pemko Solok pun punya konsep tersendiri dalam mengembangkan bantaran Batang Lembang, yakni bagaimana menjadikan Batang Lembang sebagai menjadi bahagian ikon kepariwisataan Solok. Di isisi kanan dan kiri sungai segera dilengkapi kawasan Ruang Terbuka Hujau (RTH), alas  taman kota. 

Dengan begitu, sungai besar yang membelah “kota beras” tidak hanya akan berfungsi sebagai pengendali banjir, namun juga sekaligus menjadi magnet yang menggiurkan. Bahkan, untuk jangka panjang bantaran Bantang Lembang tidak tertutup kemungkinan menjadi ikon wisata unggulan bagi Sumbar umumnya, bisa dimanfaatkan sebagai arena permanen lomba selaju sampan, serta pertunjukan berbagai even/ hiburan rakyat lainnya.

“Doakan saja, semoga proyek masadepan ini terus berjalan tanpa hambatan, hingga warga Kota Solok bahkan Sumbar ikut bangga atas terlahirnya mahakarya tersebut. Khususnya terhadap kalangan perantau, jangan bosan memberi kritik saran, sumbangsih, guna membangun Solok kedepan,” ajak Wawako.

Dibidang keagamaan, Kota Solok juga telah membangun rumah ibadah representatif, yakni Masjid Agung Almuhsinin. Bahkan konsep dan konstrukti Masjid Agung Almuhsinin bisa dibilang yang termegah di Sumbar, plus akhir-akhir ini turut dijadikan proyek percontohan oleh daerah luar. Ini sekaligus sebagai bukti bahwa Pemko Solok betul-betul serius membangkitkan, menegakkan syiar Islam di tengah-tengah masyarakat.

Begitu pula dengan pengembangan Pasar Raya Solok yang merupakan titik tumpu sekaligus menjadi urat nadi pergerakan ekonomi masyarakat, diperkuat dengan hadirnya gedung baru representatif Pasar Semi Modern tepatnya di eks Kantor Pos Lama, kawasan simpang tugu air mancur.

Prasarana umum ini dilengkapi eskalator, plus dilengkapi fasilitas penunjang lainnya. Diharapkan, sejalan dengan difungsikannya gedung baru Pasar Semi Modern Kota Solok, eksistensi Pasar Raya Solok dapat lebih hidup, bergairah, berkembang, sesuai tuntutan dan kebutuhan, tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini berlaku.

Dibidang pendidikan, semua sekolah di Kota Solok kompetitif berstandar nasional dan internasional, ditunjang dengan tersedianya prasarana, fasilitas, tenaga guru yang handal pula. Guna memaksimalkan realisasi amanat pemerintah, Kota Solok semenjak tahun 2012 resmi menerapkan program wajib belajar sembilan tahun gratis, hingga semua jenjang pendidikan di Kota Solok setiap tahun tumpah-ruah diserbu warga masyarakat, tanpa terkecuali dari luar daerah. 

Disegi pembangunan mental, Pemko Solok pun intensif memutus mata rantai pengangguran bagi usia produktif lewat mengebyarkan program-program terpadu bersama satker terkait, seperti diantaranya memberikan pelatihan kewirausahaan/kemandirian gratis, diikuti dengan bantuan peralatan usaha, serta permodalan. 

Alhasil, dengan menggebrak berbagai program pembangunan, pertumbuhan ekonomi daerah sejak tahun 2009 mampu bergerak naik menembus 6 persen, angka pengangguran, kemisinan pun turun, pendapatan perkapita mulai dari Kepala Keluarga (KK) rata-rata berada diatas garis standar. Bagi warga yang mendiami rumah tidak layak huni, secara bertahap direkontruksi melalui program bansos.

“Ini semua tidak lain demi menjadikan Kota Solok sebagai kota mandiri dan modern, sebagaimana sebelumnya telah tertuang dalam visi dan misi kami,” harap Zul Elfian. (*)