Pasa Siti Nurbaya, Ikon Baru Kota Padang

Padang - Hujan yang mengguyur Kota Padang sejak Sabtu Malam, tidak menyurutkan minat masyarakat untuk mengunjungi Pasa Siti Nurbaya. Promosi yang massif dari media sosial, membuat pengunjung penasaran dengan konsep pasar tradsional dengan kemasan zaman now.

Sejak pukul 07.00 WIB masyarakat yang sudah mempersiapkan barang dagangannya, mulai kewalahan melayani pengunjung. Pembeli menikmati pasar yang menjual berbagai makanan tradisional Sumatera Barat ini.

"Baru satu jam, sala lauak yang saya jual sudah habis, itupun masih banyak yang permintaan pengunjung," Kata Mimi, penjual makanan yang mengenakan baju kuruang.

Kehadiran Cut Beby Tsania, membuat suasana semakin heboh. Bintang sinetron dan vlogger tersebut, menyapa masyarakat dengan ramah. Tidak lupa handphone dan kamera merekam momen spesial itu. Cut Beby juga sempat menikmati berbagai macam penganan yang dijual oleh para ibu ibu.

Kemanapun Cut Beby berkeliling selalu diikuti anak anak muda, yang ingin bersalaman dan berselfie dengan artis ini. Asyiknya, Cut Beby selalu tersenyum melayani permintaan warga.

Suasana semakin meriah ketika Walikota Padang datang ke lokasi Pasar. Mahyeldi disambut dengan tari pasambahan yang dibawakan oleh Karang Taruna Kelurahan Batang Arau. Tak lupa Walikota Padang yang didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata Medi Iswandi, Camat Padang Selatan Fuji Astomi, berkeliling menikmati makanan yang dijajakan pedagang.

"Makanannya enak enak, ini harus dipertahankan, tiap minggu harus ada Pasa Siti Nurbaya ini," Kata Mahyeldi kepada pedagang.

Walikota dan rombongan mencicipi kopi solok rajo, bandrek, pergedel jagung, telur asin, gulai kepala ikan, pinyaram, kacang ramang dan berbagai kuliner lain. Mahyeldi juga mentraktir sejumlah pengunjung.

Tidak hanya makanan yang enak, masyarakat juga dihibur dengan berbagai kesenian tradisional minang. Ada tari batok yang dibawakan murid TK, Randai oleh pemuda Batang Arau, dan yang paling unik adalah tarian balance madame. Tarian ini adalah tarian akulturasi tarian Portugis, Minang dan Nias. Konon tari ini diciptakan abad ke 17, dan saat ini tak banyak yang bisa membawakan tarian ini.

Walikota dan pengunjung bahkan ikut menari dengan penari balance madame di tengah lapangan.

"Pasa Siti Nurbaya ini konsepnya unik, karena pasa pada zaman dahulu memang seperti ini, tidak hanya soal jual beli, tapi juga interaksi sosial dan budaya, saya rasa pasar ini pantas dipertahankan, sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat, terimakasih Genpi atas ide luar biasanya," Ungkap Mahyeldi.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Medi Iswandi mengaku kaget dengan konsep acara ini. "Ini diluar bayangan saya, konsepnya, pengunjungnya, dan keseniannya, Pasa Siti Nurbaya ini akan menjadi ikon baru Kota Padang," Jelas Medi Iswandi.

Selain menikmati interaksi ekonomi dan budaya, masyarakat juga tidak melewatkan momen untuk berselfie. Kapal hias, payung hias, dan berbagai spot lainnya menjadi tempat favorit untul masyarakat.

"Minggu besok kita akan kemas lagi pasar ini menjadi lebih menarik, tunggu saja kejutannya," kata Aris Purnama, Koordinator Genpi Sumbar.

Pasa Siti Nurbaya benar benar menerapkan pemberdayaan masyarakat. Hampir seluruh komponen masyarakat terlibat aktif. Seperti Pokdarwis, Karang Taruna, Forum Pemuda dan ibu ibu PKK.

"Selamat dan sukses untuk 4 pasar yang digagas Genpi di 4 Provinsi," Kata Mentri Pariwisata Arief Yahya.