Start di Solok, Finis di Padang


Tour de Singkarak Dimulai 6 Agustus

Padang, Padek—Pelaksanaan iven balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) 2016 akan dimulai pada 6 hingga 14 Agustus. Para pebalap memulai start di Kabupaten Solok dan finis di Padang. Para pebalap dunia melalui 17 kabupaten/kota dengan total panjang rute 1.100 kilometer dan 8 etape.
“Bencana alam yang sempat menimpa Kabupaten Solok Selatan awal tahun lalu memaksa kami mengurangi jumlah etape. Dari yang sebelumnya berjumlah sembilan menjadi delapan etape saja. Namun demikian, itu tidak akan mengurangi kemeriahan iven olahraga yang juga bernilai tourism tersebut,” kata Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kementerian Pariwisata Raseno Arya saat Rapat Koordinasi TdS 2016 di Hotel Mercure Padang, kemarin.
Hadir juga Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit dan kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari Dinas Pariwisata dan Dinas Perhubungan setiap kabupaten kota yang dilewati etape.

Raseno merasa yakin dengan dukungan penuh pemerintah provinsi, kota dan kabupaten se-Sumbar, pelaksanaan TdS 2016 bisa dibuat spektakuler dengan pembukaannya di Danau Singkarak pada 6 Agustus nanti. Karena itu, persiapannya harus benar-benar dilakukan secara matang. Salah satunya melakukan survei etape sampai tiga kali.
“Tiga kali survei itu dilaksanakan 9 hari dengan 25 tim dari 30 negara. Kami dari Kemenpar hanya menyediakan Rp 4 miliar dan itu masih sangat kecil dibanding iven lain. Tapi di sini ada dukungan pemerintah daerah (provinsi, kota, dan kabupaten). Karena itu, kami yakin akan menjadikan kegiatan ini spektakuler,” sebutnya.
Untuk memadukan nuansa pariwisata dalam TdS, panitia penyelenggara memberikan waktu jeda satu hari kepada semua pebalap. Waktu satu hari itu akan dilaksanakan tour city untuk pebalap.

“Jadi para pebalap akan kami bawa ke tempat-tempat wisata di Sumbar. Kebetulan etape ke-8 akan start di Bukittinggi, jadi mereka bisa berwisata di daerah tersebut. Ini bisa mendorong perokonomian Sumbar, dan Bukittinggi khususnya,” lanjut Raseno.
Provinsi Tetangga Tertarik

Di sisi lain, Raseno juga mengungkapkan ketertarikan beberapa provinsi lain untuk diikutsertakan pada perhelatan TdS di tahun-tahun mendatang. “Meski namanya TdS, tapi startnya bisa dilakukan di provinsi lain. Seperti di Palembang (Sumsel), Aceh, atau Jambi,” lanjut Raseno.
Hal senada disampaikan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit. Tour de Singkarak menjadi magnet bagi pariwisata Sumbar di mata dunia. Daya tarik TdS membuat beberapa provinsi di Sumatera bergabung dengan iven ini.

“Sudah banyak yang ingin ikut serta dari provinsi lain di luar Sumbar untuk menjadi rute TdS. Tetapi, harus mendapatkan izin dari Kementerian Pariwisata. Jika setuju, kita akan mengadakan pertemuan dengan provinsi tetangga,” katanya.
Wagub membuka diri untuk daerah lainnya, tetapi harus mempersiapkan jalan antar-provinsi diperbaiki. “Jika dapat TdS ini tidak hanya melalui daerah Sumbar. Tetapi se-Sumatera dengan tetap memakai nama Tour de Singkarak,” tegasnya.
Nasrul Abit belum bisa memastikan keikutsertaan atlet tuan rumah dari Sumbar. “Kendalanya, pelatihan yang belum memadai. Sudah delapan tahun penyelenggaraan TdS, tentunya kami ingin punya pebalap tuan rumah yang tangguh,” jelasnya.

Disikapi Santai
Sementara itu, pembatalan Solsel menjadi tuan rumah TdS 2016 karena jalan rusak parah akibat tambang galian C. “Sebenarnya bisa diusahakan jauh-jauh hari, namun Pemkab terlalu santai menyikapinya,”kata Ketua LSM Litipikor Solok Selatan, Sutan Saridin, kemarin.
Terpisah, Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Budparpora) Solsel, Doni Hendra  menjelaskan, perbaikan jalan yang rusak itu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, sedangkan TdS dihelat pada 6-14 Agustus 2016. “Yang jelas dinas pariwisata siap menyambut Tds. Sedangkan yang berkaitan dengan jalan bukan kewenangan kami,” ucap Doni Hendra.

Dia mengatakan, persoalan jalan nasional adalah tanggung jawab balai. “Kami telah berkoordinasi dengan provinsi, pemerintah tidak punya waktu cukup untuk memperbaikinya. Apalagi di titik lokasi pelebaran jalan di Alahanpanjang. Memang banyak yang kecewa, tak hanya masyarakat. Tapi, para pelaku pariwisata,” sebutnya.
Dia sendiri terkejut dengan pembatalan TdS di Solsel. Padahal, sudah disiapkan Festival Sarantau Sasurambi, Pangek Pisang terpanjang di dunia, dan peresmian jalur pendakian Gunung Kerinci di jalur Solok Selatan.