Adat dan Tata Krama Umum di Sumatera Barat

alam adat Minangkabau, tatakrama berkomunikasi sangat diperhatikan dan dianalogikan dengan kondisi jalan. Dalam hal ini jalan dibedakan atas empat katagori yang disebut dengan “Jalan Nan Ampek” (empat macam jalan), yakni jalan yang kondisinya “mandaki” (mendaki), “manurun” (menurun), “malereng” (melereng) dan “mandata” (mendatar).

 

 

Hal ini dikenal pula dengan falsafah “Tau di Nan Ampek” (tahu empat poin). yakni berupa panduan adab berkomunikasi dan memilih “kato” (kata-kata) yang mesti dipahami oleh warga minangkabau.

Keempat falsafah berkomunikasi tersebuta adalah: “kato mendaki”, “kato manurun”, “kato mandata” dan “kato melareng”.

Tata krama berbicara atau “langgam kato” di antara sesama individu tersebut, didasarkan pada kedudukan orang tersebut dalam pandangan lawan berbicara. Bisa pula karena status sosialnya di dalam masyarakat, namun bukan “strata” sosial, karena orang Minangkabau egalitarian dan demokratis.

 

 

Kato Mandaki adalah tatakrama berkomunikasi dengan orang yang kedudukannya perlu ditinggikan, seperti anak kepada orang tua, murid kepada guru, bawahan kepada atasan, dll.

Dalam hal ini pilihan kata yang digunakan adalah lebih halus dan gaya bahasa yang lebih menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara. Sebagaimana suku Jawa juga mengenal istilah bahasa Jawa halus.

 

 

Kato Manurun adalah tatakrama berkomunikasi dengan orang yang kedudukannya dianggap lebih tinggi kepada yang lebih rendah, misalnya orang tua kepada anak, guru kepada murid, atasan kepada bawahan.

Dalam hal ini tidak masalah jika terkesan mengajari atau “blak-blakan”, tentu saja tetap santun.

 

 

Kato Mandata adalah pola komunikasi di antara orang yang kedudukannya sejajar dan sudah akrab. Bentuknya lebih bebas, bisa dengan bahasa-bahasa gaul

 

 

Kato Malereng, yakni berkomunikasi dengan orang yang kedudukannya bisa sejajar akan tetapi saling menyegani, misalnya antara ipar dengan besan, sesama menantu dalam sebuah rumah, apalagi jika belum terlalu akrab. Gaya bahasa yang dipakai adalah banyak menggunakan kiasan, menggunakan kata sapaan atau kata pengganti orang yang bersifat khusus, misalnya menyebut nama gelar adat kepada ipar.