• LAYANAN PENGADUAN08116611181
  • GENREWisata Halal
  • GEOPARKGeopark Nasional
Home > Event > Bakajang

Location

Kabupaten 50 Kota
Kabupaten 50 Kota
Category
QR Code

Date

Jun 08 2019 - Jun 12 2019

Time

8:00 am - 6:00 pm

Bakajang

Setiap tahunnya, dalam rangka Idul Fitri, masyarakat Sungai Maek, Nagari Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat gelar tradisi Bakajang. Dimulai pada hari ke-4 bulan Syawal, tahun ini, Bakajang dihelat tanggal 8 s/d 12 Juni 2019.

Kajang berarti perahu, menurut bahasa setempat. Bakajang diartikan menggunakan kapal, karena awal Ba dalam bahasa Minang artinya menggunakan. Kedua, Bakajang juga bisa diartikan pembaruan.

“Perahu, dulunya merupakan alat transportasi warga Gunuang Malintang pinggiran Batang Maek,” kata Ferizal Ridwan Wakil Bupati, Limapuluh Kota kepada media. Sedangkan, pembaharuan, diartikan sebagai kegiatan memperbaharui silaturrahmi antara mamak (adik ibu) dengan kemenakan (keponakan) serta anak nagari (warna nagari atau desa), dalam rangka Idul Fitri, tambahnya.

Keindahan kapal, memancing keramaian masyarakat untuk menonton. Walau mini, kapal hiasan tersebut bisa dinaiki orang. Biasanya, beberapa orang pemain musik tradisional ikut serta meramaikan suasana. Perahu didorong oleh beberapa orang pemuda. Sebagian masyarakat ikut bersampan – sampan di sekitar perahu. Ada yang menggunakan perahu karet mainan dan ada juga yang bermain air di sekitarnya.

Kajang, terbuat dari dua sampan, diberi kerangka dan ditutupi triplek. Lalu di cat menyerupai kapal pesiar. Masyarakat bergotongroyong membangun Kajang. Waktu pembuatan dimulai sebelum puasa. Setiap kapal hias itu, berbiaya hingga puluhan juta rupiah.

Dulunya kapal mini tersebut, dipergunakan untuk transportasi masyarakat untuk saling mengunjungi. Kegiatan ini tetap dilaksanakan menjalin silahturahmi empat suku yang ada di jorong nagari Gunuang Malintang tersebut. Setiap kapal mewakili empat suku, dan ditambah kapal dari petinggi nagari.

1. Suku Domo Jorong Koto Lamo : Datuak Bandaro
2. Suku Melayu Jorong Batu Balah : Datuak Sati
3. Suku Pagar Cancang Jorong Boncah : Datuak Paduko Rajo
4. Suku Piliang Jorong Koto Masjid : Datuak Gindo Simarajo, kemudian Kajang yang selanjutnya, dan
5. Petinggi adat Nagari (Tungku Tigo Sajarangan) serta bundo kanduang dengan Pemerintah Kabupaten di Istano (Balai Adat) Nagari Gunuang Malintang.

Hari pertama dimulai dengan tradisi “Manjalang Mamak”, yang diikuti seluruh pemuda beserta anak nagari. Dalam prosesinya, para pemuda bersama bundo kanduang, membawa makanan(jamba) yang dibawa menggunakan dulang (semacam nampan yang diikat kain, dijunjung di atas kepala). Empat hari berikutnya, Kajang dipindahkan di tapian mandi (lokasi mandi) setiap jorong. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *